Kerja Merantau di Belanda

Jun 29, 2019 15:10 · 1607 words · 8 minute read #belanda #developer #random #work

Kerja Merantau di Belanda
Image by Ansgar Scheffold from Pixabay

Nggak sedikit dari teman-teman saya bertanya bagaimana saya bisa bekerja di luar negeri — di Belanda tepatnya — dan menetap di sana. Dan banyak yang menganggap bahwa pastilah saya seorang developer handal sampai-sampai saya bisa relokasi ke Belanda. Saya cuman bisa bilang “Amin” dan berdoa semoga suatu saat saya bisa jadi developer handal 😅 Sebenarnya banyak developer asal Indonesia yang sukses bekerja merantau di negeri orang, seperti Mas Zain, Mas Elky, Mas Sonny, Mas Irham, yang tentunya jauh lebih hebat dari saya. Jujur saya bekerja di Belanda ini sebatas karena faktor luck saja, atau lebih tepatnya karena kebesaran dan kuasa Tuhan 🙏🏻


Dari semenjak Sekolah Dasar sampai jenjang universitas, orang tua saya selalu encourage kami sebagai anak-anaknya untuk pergi merantau. Baik tujuanya sekolah atau bekerja. Yang penting merantau. Katanya sih, kita akan belajar banyak: ketemu banyak orang, ekspansi network, belajar budaya baru, bahasa baru.

Sebagai persiapan awalnya, semenjak SMP kami disekolahkan di pondok pesantren agar terbiasa hidup mandiri dan jauh dari keluarga. Pun di pondok ini kami juga dipersiapkan untuk mampu berkomunikasi dengan dua bahasa asing, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Setiap bulan orang tua datang menjenguk dan kami selalu dimotivasi untuk terus mengasah kemampuan bahasa kami. Tak jarang kami dibelikan buku-buku grammar, komik, novel, sampai majalah berbahasa Inggris. Alhamdulillah, kami sangat merasakan manfaatnya setelah lulus dari pondok.

Masuk jenjang kuliah, kami langsung merantau: kakak saya di Jogja, saya dan adik di Malang. Lulus kuliah pun kami masih terus “dipanas-panasi” untuk melanjutkan studi di luar negeri. Kemampuan bahasa kami diasah lagi dengan diikutkan les Bahasa Inggris untuk persiapan tes IELTS. Qadarullah, kakak saya dapat beasiswa sekolah di Auckland dan sampai sekarang masih tinggal di sana bersama keluarganya. Namun kalau saya pribadi, selepas kelulusan dari universitas masih belum mau melanjutkan kuliah S2 karena ingin mengasah kemampuan coding dulu dengan bekerja.


Setelah kira-kira satu setengah tahun bekerja sebagai Software Developer dan tahu apa yang ingin dipelajari di jenjang Master, saya memutuskan untuk lanjut kuliah S2. Bulan Mei 2017 saya dapat Letter of Acceptance (LoA) dari Glasgow University. Tinggal cari beasiswanya. Ini yang agak susah haha, karena pada waktu itu saya masih disibukkan oleh pekerjaan dan juga persiapan untuk menikah. Setelah 1-2 bulan mencari-cari dan mendaftar beasiswa dan belum ada satupun yang nyantol, saya memutuskan untuk menunda S2 sampai tahun depan, sembari hunting beasiswa.

Nah, pada waktu yang bersamaan, salah satu teman saya menawarkan lowongan pekerjaan sebagai Software Developer di Belanda. Iseng-iseng buka dan kirim CV, eh ternyata dipanggil untuk interview. Interview pun kami lakukan via Google Hangout.

Sebenernya saya cukup nekat apply pekerjaan ini karena beberapa hal. Pertama, Bahasa Inggris saya yang masih terlalu kaku untuk percakapan. Kedua, pengalaman saya di dunia kerja yang masih minim. Gimana enggak, saya hanya memiliki pengalaman 1-2 tahun dengan React dan ekosistemnya sementara lowongan tersebut ditujukan untuk developer yang senior. Dan benar saja, CTO-nya secara eksplisit bilang ke saya setalah interview, “Normally we don’t take developers like you, clearly you’re not senior enough”. 💣💥🔥🔥🔥. Mental jatoh bro. Terjun bebas! Haha. Padahal pertanyan-pertanyaannya pun cukup sederhana: scoping, pure function, map-filter-reduce, abstraction, code review, testing. Hampir semua berhasil saya jawab, kecuali soal scoping.

for (var i=0; i<10; i++) {
  setTimeout(function () {
    console.log(i)
  }, 1000)
}

Saya gak bisa jawab haha, karena sudah terbiasa menggunakan let dan const sampai tidak tahu evil behaviour dari var 🤦🏻‍ Bagi yang penasaran apa hasil dari console.log(i), bisa baca-baca kemari untuk mencari tau jawabannya.

Namun atas kuasa Allah saya diberi kesempatan sekali lagi untuk interview dengan salah satu senior developer. Mereka bilang saya orangnya baik dan sangat potensial 😅 Dan kali ini technical interview-nya seputar React dan Redux yang Alhamdulillah bisa dijawab semua dengan cukup lancar. Satu minggu kemudian saya dapat kabar saya diterima.


Setelah diterima, saya bekerja secara remote selama 3 bulan karena memang saya apply pekerjaan ini sebagai remote developer. HR bilang nanti akan ada evaluasi setalah 3 bulan bekerja, apakah akan dilanjutkan atau tidak. Jika dilanjutkan, kita bisa memilih apakah tetap mau bekerja secara remote atau relokasi ke Belanda (ini lebih preferable untuk mereka).

Saya jawab insyallah saya siap relokasi ke Belanda jika pihak perusahaan memutuskan untuk memperpanjang kontrak saya. Saya pikir, ini kesempatan jarang, apalagi posisi saya pada waktu itu masih junior developer. Mungkin bisa dikatakan hampir tidak ada perusahaan yang akan berani mengambil resiko merelokasi seorang junior developer jauh-jauh dari Indonesia ke Belanda, karena memang biayanya sangatlah mahal.

Dan setelah tiga bulan, kontrak kami diperpanjang. Alhamdulillah.

Maka tidak berlebihan ketika saya bilang di awal artikel bahwa bisa dapat kesempatan bekerja di Belanda ini solely karena Kuasa Allah

Bulan Januari 2018 saya terbang ke Belanda. Persiapannya pun hanya satu hari: Selasa ambil visa, beli jaket winter, Rabu langsung berangkat. Istri belum bisa ikut karena dokumen kami sebenarnya belum lengkap (seperti legalisir Buku Nikah, identitas, akte lahir, dll). Selama tiga bulan pertama saya di Belanda saya masih belum cukup percaya diri berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Sedangkan orang-orang Belanda sendiri sangatlah fasih. Bisa dilihat di EF English Proficiency Index dimana Belanda dan Swedia menempati peringkat pertama untuk negara non-native English (yang mengambil tes EF) dengan profisiensi Bahasa Inggris tertinggi di dunia. Jiper bro 😅

“Lho, katanya dulu sudah les Bahasa Inggris, mas?”. Betul saya sudah les, pun dapat nilai yang cukup memuaskan dalam tes IELTS. Tapi bukan berarti bahasa Inggris saya sudah sebagus itu dan percaya diri dalam berkomunikasi. Conversation saya masih belepotan hehe.

Daaan setelah 3 bulan saya mulai melihat kenyataan bahwa mereka pun banyak melakukan kesalahan here and there karena sejatinya mereka sendiri bukan native speaker. Saya seringkali mendengar “belum siapnya berbahasa Inggris” menjadi salah satu faktor terbesar orang Indonesia ogah merantau ke luar negeri. Bahkan saya punya beberapa kolega yang Bahasa Inggris-nya sangat amburadul tapi tetep stay cool, yang penting dimengerti. Saya juga pernah ngobrol sama seorang developer asal Rusia yang Bahasa Inggrisnya masyaallah hancur sampai-sampai gak terhitung saya bilang “sorry?”, tapi dia sukses bekerja di perusahaan sebesar Booking.com. Jadi santai aja lagi, kita semua paham kok kita bukan native speaker 🙂

Bahasa Inggris masih kurang bagus gak masalah, asalkan kita betul-betul paham apa yang orang lain bicarakan, dan orang lain betul-betul paham apa yang kita bicarakan.


Life goes on, dan gak segalanya karir kita akan berjalan lancar. Setelah hampir 2 tahun bekerja di perusahaan tersebut, ada berita duka: PHK besar-besaran 😆 dan saya termasuk salah satu yang kena PHK.

Kejadian ini bisa diambil sisi baiknya — kullumaa qaddarahullaahu khair — segala yang ditakdirkan Allah itu pasti baik. Dari PHK ini, kami bisa mencari pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih baik pula. Dan mencari pekerjaan sebagai Software Developer di Belanda sebenarnya nggak susah-susah amat. Bukan karena kami hebat, tapi karena market demand untuk developer di Belanda sangat sangat besar. Ribuan job tersedia baik untuk Mid-level Developer maupun Senior Developer. Tidak sedikit juga yang menyediakan paket Visa Sponsorship yang artinya saya sebagai orang yang datang dari luar EU dapat memiliki kesempatan bekerja di Belanda.

Yang membuat mencari pekerjaan terasa agak sulit adalah karena tidak semua industri di sini sejalan dengan value yang kita pegang. Sebagai contoh, sebagai seorang Muslim saya hanya ingin bekerja di perusahaan yang tidak berhubungan dengan hal-hal yang diharamkan agama seperti miras, judi, dan riba. Memastikan perusahaan yang sejalan dengan value kita tersebut di dunia barat terkadang cukup melelahkan. Pernah sekali saya sudah merasa klop dengan satu perusahaan, sudah wawancara, only to find out later that they’re going to have a gambling company as their client. Pernah juga sudah mau apply, tapi ternyata perusahaan tersebut menjual miras. Dan lain sebagainya.

Namun secara keseluruhan, permintaan pasar untuk developer masih sangat besar 🙂

EDIT: Saya sudah bekerja di perusahaan yang baru semenjak awal Juni 2019, masih di sekitaran Amsterdam. Alhamdulillah.


Beberapa takeaway receh dari saya pribadi sebelum blindly apply for jobs di luar negeri:

  • Matangkan kemampuan berbahasa Inggris. Nggak harus sempurna, tapi cukup mengerti dan dimengerti.
  • Kita bisa mencari pekerjaan di luar negeri melalui Stackoverflow. Jangan lupa mencari perusahaan yang menyediakan paket “Visa Sponsorship” atau “Relocation” karena elemen ini yang memungkinkan kita untuk relokasi ke negara tujuan. Di Stackoverflow ini juga, saya pernah ditawari pekerjaan lewst Inbox di Berlin tapi sayangnya waktu itu sedang persiapan keberangkatan ke Belanda. Maka, update profile Developer Story temen-temen, cari pekerjaan di halaman Jobs dengan filter Visa Sponspors dan Relocation, insyallah banyak opportunity di sana. Sebelum berangkat ke Belanda saya juga aktif cari di Stackoverflow, pun sewaktu saya masih mencari pekerjaan baru. Silakan dicoba 😉
joboffer

Contoh job offer di Stackoverflow

  • Lihat bagaimana sistem pajak yang berlaku di negera tujuan. Saya punya pengalaman yang cukup buruk di awal-awal waktu saya tinggal di Belanda: pajak terlampau tinggi dan kami tidak mempersiapkan diri secara mental dan finansial. Walaupun pada akhirnya kami sebagai expat mendapatkan keringanan pajak selama 5 tahun awal dan pajak yang telah kami bayarkan dikembalikan (30% ruling), kita tetap harus tau supaya tidak terlalu kaget dan merasa kecewa.
  • Punya financial backup. Pada waktu keberangkatan saya ke Belanda, saya hampir-hampir tidak memiliki tabungan yang mencukupi bahkan untuk tinggal di Belanda selama 1 bulan saja. Oleh karenanya, saya mendadak meminjam sejumlah uang yang bisa dibilang cukup besar ke orang tua dan berangsur mencicilnya 🤦🏻
  • Punya Mastercard atau Visa. Di beberapa negara seperti Belanda, mereka tidak menerima cash sama sekali untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu: seperti beli tiket transportasi umum, pembayaran registrasi imigrasi, dan pembayaran-pembayaran lainnya. Kita tidak bisa serta merta membuka akun bank di sini, ada syarat yang harus dipenuhi. Sampai syarat tersebut terpenuhi, akan sangat handy jika kita tetap bisa melakukan pembayaran secara cashless.

Semoga dari tulisan ini, temen-temen bisa tau bahwa tidak selamanya orang yang bekerja di negeri orang haruslah orang yang hebat. Dan tidak selamanya bekerja di negeri orang itu sesulit yang dibayangkan. Bisa jadi kesempatan itu sudah di depan mata namun kita terlalu takut untuk mengambilnya.

Wallahu a’lam.

Edit on